\n

Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n
  1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
  2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
  3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
  4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
  5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
  6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

    Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

    Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

    Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

    Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

    Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

    Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

    Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

    Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

    Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

    Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

    Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

    Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

    Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

    Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

    CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

    Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

    Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

    Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

    Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

    Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

    Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

    Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

    Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

    Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

    Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

    Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

    Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

    Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

    Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

    Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

    Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
    <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

    \n

    Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

    1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
    2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
    3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
    4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
    5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
    6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

      Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

      Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

      Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

      Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

      Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

      Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

      Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

      Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

      Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

      Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

      Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

      Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

      Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

      Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

      CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

      Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

      Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

      Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

      Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

      Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

      Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

      Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

      Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

      Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

      Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

      Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

      Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

      Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

      Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

      Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

      Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
      <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

      \n
      1. pemilihan mitra usaha<\/li>
      2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
      3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

        Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

        1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
        2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
        3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
        4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
        5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
        6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

          Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

          Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

          Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

          Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

          Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

          Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

          Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

          Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

          Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

          Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

          Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

          Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

          Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

          Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

          CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

          Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

          Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

          Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

          Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

          Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

          Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

          Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

          Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

          Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

          Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

          Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

          Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

          Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

          Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

          Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

          Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
          <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

          \n
          1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
          2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
          3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
            1. pemilihan mitra usaha<\/li>
            2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
            3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

              Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

              1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
              2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
              3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
              4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
              5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
              6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                \n

                Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                  1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                  2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                  3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                    Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                    1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                    2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                    3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                    4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                    5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                    6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                      Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                      Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                      Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                      Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                      Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                      Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                      Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                      Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                      Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                      Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                      Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                      Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                      Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                      Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                      CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                      Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                      Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                      Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                      Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                      Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                      Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                      Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                      Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                      Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                      Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                      Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                      Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                      Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                      Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                      Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                      Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                      <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                      \n
                      1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                      2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                      3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                        Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                        1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                        2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                        3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                          1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                          2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                          3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                            Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                            1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                            2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                            3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                            4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                            5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                            6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                              Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                              Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                              Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                              Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                              Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                              Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                              Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                              Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                              Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                              Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                              Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                              Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                              Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                              Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                              CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                              Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                              Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                              Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                              Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                              Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                              Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                              Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                              Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                              Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                              Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                              Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                              Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                              Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                              Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                              Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                              Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                              <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                              \n

                              Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                              1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                              2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                              3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                  1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                  2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                  3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                    Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                    1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                    2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                    3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                    4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                    5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                    6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                      Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                      Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                      Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                      Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                      Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                      Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                      Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                      Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                      Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                      Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                      Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                      Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                      Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                      Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                      CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                      Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                      Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                      Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                      Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                      Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                      Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                      Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                      Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                      Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                      Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                      Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                      Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                      Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                      Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                      Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                      Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                      <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                      \n

                                      Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                      Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                      1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                      2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                      3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                        Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                        1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                        2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                        3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                          1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                          2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                          3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                            Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                            1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                            2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                            3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                            4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                            5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                            6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                              Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                              Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                              Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                              Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                              Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                              Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                              Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                              Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                              Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                              Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                              Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                              Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                              Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                              Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                              CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                              Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                              Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                              Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                              Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                              Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                              Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                              Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                              Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                              Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                              Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                              Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                              Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                              Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                              Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                              Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                              Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                              <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                              \n

                                              Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                              <\/p>\n\n\n\n

                                              Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                              Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                              1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                              2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                              3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                  1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                  2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                  3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                    Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                    1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                    2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                    3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                    4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                    5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                    6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                      Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                      Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                      Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                      Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                      CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                      Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                      Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                      Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                      Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                      Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                      Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                      Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                      <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                      \n
                                                      1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                      2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                        Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                        Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                        Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                        1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                        2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                        3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                          Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                          1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                          2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                          3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                            1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                            2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                            3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                              Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                              1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                              2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                              3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                              4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                              5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                              6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                \n

                                                                Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                  Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                  Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                  Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                  1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                  2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                  3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                    Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                    1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                    2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                    3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                      1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                      2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                      3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                        Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                        1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                        2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                        3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                        4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                        5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                        6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                          Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                          CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                          <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                          \n

                                                                          Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                          1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                          2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                            Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                            1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                            2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                            3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                              Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                              1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                              2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                              3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                  Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                  2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                  3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                  4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                  5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                  6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                    Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                    CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                    \n

                                                                                    Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                    2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                      Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                      2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                      3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                        Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                        2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                        3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                          1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                          2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                          3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                            Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                            2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                            3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                            4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                            5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                            6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                              Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                              CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                              \n
                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                              Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                              2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                  Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                  2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                  3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                    1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                    2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                    3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                      Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                      2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                      3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                      4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                      5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                      6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                        Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                        CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                        \n

                                                                                                        Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                        Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                        2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                          Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                          2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                          3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                            Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                            2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                            3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                              1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                              2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                              3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                  Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                  CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                  \n
                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                  Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                  Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                  2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                    Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                    2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                    3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                      Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                      2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                      3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                        1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                        2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                        3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                          Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                          2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                          3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                          4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                          5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                          6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                            Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                            CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                            \n
                                                                                                                            \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                            \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                            Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                            Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                            2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                              Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                              2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                              3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                  1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                  2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                  3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                    2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                    3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                    4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                    5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                    6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                      Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                      CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                      \n

                                                                                                                                      Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                      2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                        2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                        3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                          2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                          3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                            1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                            2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                            3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                              2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                              3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                              4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                              5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                              6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                \n
                                                                                                                                                1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                  2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                    2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                    3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                      2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                      3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                        1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                        2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                        3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                          2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                          3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                          4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                          5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                          6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                            Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                            CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                            \n

                                                                                                                                                            Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                            2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                              2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                  2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                  3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                    1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                    2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                    3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                      2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                      3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                      4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                      5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                      6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                        Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                        CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                        \n

                                                                                                                                                                        2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                        2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                          2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                            2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                            3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                              2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                              3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                  2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                  3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                  4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                  5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                  6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                    Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                    CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                    \n

                                                                                                                                                                                    1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                    2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                      2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                        2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                        3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                          2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                          3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                            1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                            2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                            3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                              2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                              3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                              4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                              5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                              6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                \n

                                                                                                                                                                                                Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                  2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                    2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                    3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                      2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                      3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                        1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                        2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                        3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                          2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                          3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                          4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                          5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                          6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                            Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                            CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                            \n

                                                                                                                                                                                                            Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                            2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                              2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                  2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                  3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                    1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                    2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                    3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                      2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                      3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                      4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                      5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                      6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                        Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                        CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                        \n

                                                                                                                                                                                                                        Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                        2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                          2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                            2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                            3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                              2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                              3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                  2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                  3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                  4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                  5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                  6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                    Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                    CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                    \n

                                                                                                                                                                                                                                    Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                    Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                    2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                      2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                        2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                        3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                          Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                          1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                          2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                          3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                            1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                            2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                            3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                              Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                              1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                              2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                              3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                              4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                              5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                              6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                \n

                                                                                                                                                                                                                                                Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                  Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                  Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                  Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                  Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                  Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                  1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                  2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                    Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                    Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                    Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                    1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                    2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                    3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                      Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                      1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                      2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                      3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                        1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                        2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                        3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                          Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                          1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                          2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                          3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                          4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                          5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                          6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                            CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                            \n

                                                                                                                                                                                                                                                            Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                            1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                            2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                              Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                              Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                              Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                              Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                              Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                              1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                              2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                  Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                  1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                  2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                  3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                    1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                    2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                    3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                      Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                      3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                      4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                      5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                      6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                        \n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                        1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                        2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                          Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                          Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                          Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                          Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                          Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                          1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                          2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                            1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                            2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                            3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                              Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                              1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                              2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                              3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                  Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                  4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                  5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                  6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                    \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                      Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                      Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                        Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                        Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                          Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                              4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                              5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                              6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                          4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                          5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                          6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6984,"post_author":"877","post_date":"2020-08-03 09:48:27","post_date_gmt":"2020-08-03 02:48:27","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tembakau sebagai salah satu produk perkebunan dapat dijadikan produk andalan ekspor non migas Indonesia di era perdagangan  bebas. Dengan memiliki daya saing yang tinggi, produsen (baik petani, swasta maupun perkebunan besar) akan dapat menghasilkan produksi  maksimal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sistem perdagangan dalam negeri menganut sistem pasar yang cenderung ke struktur pasar oligopsoni. Dimaksud sistem perdagangan melalui berbagai saluran pemasaran (marketing channel <\/em>). Kelemahan sistem ini, posisi tawar petani ditentukan kualitas dan permintaan pasar atau juga permintaan perusahaan. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1.  Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar     2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2.  tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar  34 \u2013 41 %      indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Saluran penjualan dan pemasaran tembakau  setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. saluran penjualan langsung : transaksi yang dilakukan petani produsen langsung dengan perusahaan rokok atau perusahaan eksportir.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. saluran penjualan tidak langsung : melalui beberapa saluran seperti pedagang perantara\/pengepul , blandang (petani pemimpin), pedagang besar, oopkoper (pedagang gudang\/pengomprong\/perusahaan <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik        gudang  pabrik 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya  lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. tembakau sebagai fancy product : harga ditentukan mutunya. jika tembakau mutu baik, maka penawaran didapatkan terbaik.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. banyak pedagang, disini kesempatan petani untuk memilih penawar terbaik dari  mutu yang dimiliki <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan  gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian  baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan.  Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. petani harus mengatur jumlah produksinya  - panenan terserap<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. transparansi serapan jumlah tembakau dari pabrikan \u2013 per gudang<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. ketersediaan gudang petani  untuk simpanan stok\/tunda jual<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. informasi waktu yg tepat menanam tembakau \u2013 ketersediaan saprodi dan air.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. menyediakan bibit \/jenis tembakau<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. informasi tata cara usaha tani yg tepat<\/li><\/ol>\n\n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. pemilihan mitra usaha<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. alih teknologi & proses produksi<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. permodalan & sumber2nya dan sebagainya masih banyak lagi <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Usaha tani yang masih tradisional, dan minimnya pendampingan dari pihak manapun, sehingga petani tidak dapat informasi tentang mana tembakau yang dibutuhkan pasar, sehingga harus ditanam.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Ongkos produksi masih relatif tinggi, belum ada cara yang dapat menurunkan ongkos produksi.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. Dukungan lembaga keuangan baik didaerah maupun dipusat sangat minim bahkan cenderung tidak ada. Mungkin ketika didukung pembiayaan produksi dengan bunga standar petani akan lebih bisa pangkas ongkos produksi. Rata-rata selama ini yang berjalan petani sering ambil hutangan ke pihak swasta dengan sistem \u201cijon\u201d, dengan bungan besar.  <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      4. Asimetrik informasi, kebanyakan petani tidak mau bermitra dengan perusahaan rokok. Mereka ingin menjual bebas hasil panennya. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      5. Saluran tata niaga terlalu banyak hingga terjadi ketidakpastian atau tidak menentunya harga.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      6. Harga tembakau sangat ditentukan oleh pasar. Pasarnya bagus, harga meningkat, pasar anjlok harga ikut anjlok. <\/li><\/ol>\n","post_title":"Membaca Sistem Tata Niaga Tembakau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membaca-sistem-tata-niaga-tembakau-dinas-perindustrian-dan-perdagangan-provinsi-jawa-tengah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-03 09:48:33","post_modified_gmt":"2020-08-03 02:48:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6973,"post_author":"878","post_date":"2020-07-30 10:28:01","post_date_gmt":"2020-07-30 03:28:01","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona.  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri  farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga  -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air.  Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun  keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};