Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n
Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n
CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n
Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n
CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n
Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n
CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n
Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n
Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n
CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n
Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n
Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n
Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n
CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n
Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n
Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n
Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n
CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n
Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n
Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n
Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n
CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n
Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n
Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n
Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n
Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n
CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n
Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n
Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n
Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n
Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n
Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n
CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n
Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n
Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n
Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n
Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n
Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n
CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n
Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n
Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n
Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n
Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n
Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n
CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n
Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n
Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n
Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n
Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n
Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n
CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n
Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n
Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n
Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n
Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n
Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n
CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n
Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n
Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n
Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n
Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n
Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n
Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n
CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n
Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n
Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n
Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n
Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n
Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n
Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n
CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n
Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n
Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n
Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n
Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n
Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n
Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n
Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n
CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n
Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n
Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n
Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n
Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n
Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n
Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n
Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n
CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n
Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n
Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n
Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n
Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n
Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n
Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n
Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n
CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n
Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n
Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n
Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n
Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n
Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n
Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n
Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n
Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n
CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n
Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n
Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n
Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n
Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n
Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n
Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n
Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n
Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n
CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n
Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n
Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n
Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n
Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n
Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n
Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n
Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n
Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n
Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n
CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n
Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n
Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n
Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n
Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n
Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n
Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n
Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n
Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n
Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n
Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n
CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n
Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
<\/p>\n\n\n\n
Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n
Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n
Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n
Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n
Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n
Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n
Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n
Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n
Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n
Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n
CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n
Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
<\/p>\n\n\n\n
Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n
Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n
Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n
Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n
Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n
Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n
Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n
Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n
Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n
Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n
CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n
Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n
Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
<\/p>\n\n\n\n
Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n
Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n
Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n
Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n
Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n
Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n
Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n
Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n
Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n
Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n
CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n
Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
<\/p>\n\n\n\n
Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n
Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
<\/p>\n\n\n\n
Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n
Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n
Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n
Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n
Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n
Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n
Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n
Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n
Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n
Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n
CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n
Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik gudang pabrik
<\/p>\n\n\n\n
Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
<\/p>\n\n\n\n
Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n
Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
<\/p>\n\n\n\n
Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n
Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n
Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n
Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n
Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n
Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n
Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n
Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n
Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n
Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n
CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n
Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik gudang pabrik
<\/p>\n\n\n\n
Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi.
<\/p>\n\n\n\n
Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n
Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung.
<\/p>\n\n\n\n
Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n
Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n
Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n
Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n
Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n
Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n
Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n
Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n
Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n
Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n
CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n
Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n
Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n
Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n
Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n
Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n
Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n
Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n
Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n
Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n
Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n
Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga.
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik gudang pabrik Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi. Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung. Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga. Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik gudang pabrik Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi. Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung. Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga. Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik gudang pabrik Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi. Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung. Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga. Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik gudang pabrik Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi. Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung. Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga. Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik gudang pabrik Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi. Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung. Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga. Saluran penjualan dan pemasaran tembakau setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik gudang pabrik Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi. Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung. Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga. 2. tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar 34 \u2013 41 % indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia Saluran penjualan dan pemasaran tembakau setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik gudang pabrik Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi. Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung. Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga. 1. Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar 2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n 2. tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar 34 \u2013 41 % indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia Saluran penjualan dan pemasaran tembakau setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik gudang pabrik Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi. Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung. Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga. Jika di sederhanakan, Indonesia salah satu negara penghasil tembakau untuk kepentingan dalam negeri maupun kepentingan dunia, terdapat dua jenis tembakau, <\/p>\n\n\n\n 1. Tembakau voor-oogst : tembakau untuk bahan baku industri rokok dengan pangsa pasar 2,3 s\/d 2,5 % dari produk dunia indonesia masih mengimpor.<\/p>\n\n\n\n 2. tembakau na-oogst : tembakau utk bahan baku industri cerutu pangsa pasar 34 \u2013 41 % indonesia eksistensinya diperhitungkan dunia Saluran penjualan dan pemasaran tembakau setelah panen terdapat dua jalur, yaitu:<\/p>\n\n\n\n Model pemasaran Petani Tembakau di Jawa Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya tata niaga tembakau tidak ada bedanya dengan komoditi lainnya, sasarannya adalah pedagang. <\/p>\n\n\n\n Pakemnya : petani ? pedagang perantara ? pabrik gudang pabrik Bedanya, liku-liku tata niaga pertembakauan itu pada gudang para tengkulak dan ada beberapa di gudang grader. Disini pedagang akan bersaing untuk mendapatkan harga tembakau tertinggi. Pada level perdagangan perantara ini, perlu diperbanyak posisi tawar pedagang. Artinya lebih banyak penawar maka posisi tawar petani akan naik, sebab;<\/p>\n\n\n\n Permasalahan tata niaga tembakau, biasanya pada proses jual beli petani \u2013 pedagang dan gudang sebagai perwakilan pabrik. Kelas pedagang ada beberapa cluster, minimal dua cluster, yaitu pedagang tengkulak penampung (punya gudang) dan pedagang tengkulak penyetor ke gudang penampung. Biasanya pedagang penyetor itu orang suruhan atau kepercayaan pedagang tengkulak penampung. Pedagang penyetor, di kasih modal pedagang penampung untuk mencari barang yang berkuwalitas sampai kepelosok. Namun ada juga pedagang penyetor yang lepas. Ia dengan modal sendiri membeli tembakau dari masyarakat kemudian baru di tawarkan ke pedagang penampung. Posisi pedagang penampung mempunyai kartu lisensi yang dapat menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. Artinya tanpa kartu tersebut, orang tidak bisa sembarang menyetorkan barangnya ke gudang pabrikan. <\/p>\n\n\n\n Biasanya harga di lapangan penentunya ada di pedagang\/tengkulak penyetor dan penampung, solusinya:<\/p>\n\n\n\n Disini kemitraan perusahaan sangat baik untuk para petani. Dengan bermitra, berkelompok\/lembaga bersama perusahaan, banyak manfaat untuk petani, misal:<\/p>\n\n\n\n Faktor yang berpengaruh pada persentase keuntungan tataniaga tembakau<\/p>\n\n\n\n Dalam setahun, Badan Pusat Statistik (BPS) di negeri ini mengeluarkan dua kali hasil survey mereka. Biasanya pada bulan Maret dan bulan September. Ada banyak data hasil survey yang dikeluarkan BPS pada Maret dan September itu, mulai dari jumlah penambahan jumlah penduduk, jumlah kematian, tingkat konsumsi masyarakat, hingga jumlah penduduk sejahtera, menengah, dan pra sejahtera di negeri ini, semuanya ada datanya.<\/p>\n\n\n\n Faktor-faktor penyebab kemiskinan di negeri ini, juga tercantum dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS dua kali setahun itu. Dan selalu, dalam beberapa tahun belakangan, dua kali setahun ini, rokok selalu jadi sorotan BPS karena dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Konsumsi rokok, dalam beberapa tahun belakangan selalu menduduki peringkat ke dua penyebab kemiskinan di negeri ini setelah konsumsi beras. Menurut survey BPS, belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai faktor penyebab kemiskinan banyak masyarakat di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Dua kali setahun itu pula, pihak anti-rokok akan memanfaatkan hasil riset keluaran BPS ini untuk menggoreng isu untuk menyerang rokok. Mereka dengan getol memanfaatkan isu yang sensitif dan fundamental ini untuk menggembosi produk rokok.<\/p>\n\n\n\n Sepemantauan saya, kaum anti-rokok menggunakan isu rokok penyebab kemiskinan ini sebagai salah satu senjata andalan mereka, di luar senjata andalan lainnya berupa isu-isu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, para penikmat rokok, dan mereka yang konsisten membela hak-hak para perokok, petani tembakau dan cengkeh, dan industri rokok di negeri ini, akan memutar otak untuk tetap bisa membela semua itu dari serangan anti-rokok yang menghembuskan isu rokok penyebab kemiskinan. Beragam cara dimanfaatkan untuk meredam isu rokok penyebab kemiskinan ini agar serangan-serangan menyebalkan pihak anti-rokok bisa diredam.<\/p>\n\n\n\n Ini memang berat, dan isu ini memang sensitif sehingga selalu menjadi pembahasan setiap tahunnya tiap kali BPS selesai melakukan riset tahunan dan mengeluarkan rilis hasil riset mereka itu. Isu kemiskinan, dan isu kesejahteraan, memang penting untuk dibahas dan dicarikan permasalahannya. Sehingga tidak mengherankan juga jika rokok sering jadi pembahasan saat isu kemiskinan dan kesejahteraan diperbincangkan di banyak tempat dan kesempatan.<\/p>\n\n\n\n Sebagai orang yang kerap ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan membela hak-hak perokok, petani tembakau dan cengkeh, para pedagang rokok, dan juga industri rokok dari serangan kaum anti rokok, saya memiliki pandangan yang berbeda dengan teman-teman terkait isu rokok penyebab kemiskinan ini.<\/p>\n\n\n\n Jika kebanyakan teman-teman merespon isu ini dengan cara sebisa mungkin menegasikan pandangan rokok penyebab kemiskinan, saya menerima bulat-bulat data hasil riset BPS itu. Ya, konsumsi rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan, saya percaya itu. Meskipun saya benci statistika, tetapi, itulah hasil data statistik di negeri ini bahwasanya rokok menjadi salah satu penyebab kemiskinan, data statistik yang dikeluarkan oleh lembaga statistik terbaik di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n Mau bagaimana lagi, hasil data statistik bilang begitu, bahwa belanja rokok setingkat di bawah belanja beras sebagai penyebab kemiskinan di negeri ini, ya sudah. Memang begitu adanya berdasar data. Meskipun semua data itu murni data kuantitatif saja, sementara data kualitatif mengapa orang-orang tetap mengonsumsi rokok sama sekali tidak ditonjolkan, misal rokok sebagai produk relaksasi dan produk rekreatif bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, ya, rokok memang penyebab kemiskinan, salah satu penyebab kemiskinan, setidaknya begitulah data yang dikeluarkan BPS dua kali dalam setahun. Saya tidak mau memungkiri itu. Saya percaya itu.<\/p>\n\n\n\n Namun yang mesti dilihat dengan jelas, apakah murni rokok dan industri yang memproduksi rokok yang mesti ditunjuk dengan jari telunjuk kita semua, untuk kemudian menyalahkan keduanya karena menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. <\/p>\n\n\n\n Sebagai penutup, saya mau mengajak Anda semua melihat fakta keras ini. Dalam setiap produk rokok yang dijual di pasaran, ada cukai dan beberapa jenis pajak yang disertakan di dalamnya dan semua itu dibebankan kepada konsumen untuk membayarnya. Seperti juga seluruh industri lain yang memiliki pajak dan juga cukai, beban pajak dan cukai dibebankan sepenuhnya kepada konsumen. Untuk produk rokok, jumlah cukai dan pajak yang masuk ke negera dalam sebatang rokok yang dijual di pasaran, mengambil porsi mencapai 60 persen dari harga jual. Misal harga sebatang rokok Rp1000, maka Rp600 langsung masuk ke kas negara lewat skema cukai dan pajak. Lebih dari separuhnya. Sudah begitu, negara setiap tahun tetap konsisten menaikkan cukai rokok dengan gembira.<\/p>\n\n\n\n Jadi, yang sebenarnya memiskinkan itu siapa? Murni rokok, atau negara lewat skema cukai dan pajaknya?<\/p>\n","post_title":"Rokok Memang Penyebab Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-memang-penyebab-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-30 10:28:07","post_modified_gmt":"2020-07-30 03:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6963,"post_author":"877","post_date":"2020-07-27 11:26:44","post_date_gmt":"2020-07-27 04:26:44","post_content":"\n CNBC Indonesia tanggal 25\/7\/2020 memberitakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat berkat lonjakan saham farmasi PT. Bio Farma saat pandemi. PT. Bio Farma ini punya anak usaha yang bekerjasama dengan pemerintah, yaitu PT. Indofarma Tbk (INAF) dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF). <\/p>\n\n\n\n Keduanya BUMN dengan menyumbang kenaikan cukup fantastis hingga ratusan persen sebesar 133% dan 114%. Ini karena mereka menjual obat, yang kemudian akan menjadi pemasok satu-satunya vaksin corona. Beda dengan saham rokok, yang menjual produk konsumsi minoritas masyarakat Indonesia pasti kena dampak corona. <\/p>\n\n\n\n Sebelum mengulik lebih jauh ke fokus pembicaraan, ada sedikit penjelasan tentang industri farmasi yang ada di Indonesia. Parulian Simanjuntak Direktur Eksekutif IPMG berkata, kalau industri farmasi yang ada di Indonesia itu industri farmasi internasional. Di Indonesia memiliki 18 pabrik dan 1 usaha pergudangan obat, dengan total karyawan 10.000 jiwa, diadaptasi dari media online Bisnis.com rilis pertanggal 8\/4\/2020.<\/p>\n\n\n\n Kembali ke saham, sebaliknya saham industri rokok merosot hingga minus. Contoh saham PT Diamond Propertindo Tbk (DADA) turun hingga -12.5%. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun hingga -8.4% dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga -6.4%.<\/p>\n\n\n\n Akibat utama merosotnya saham rokok disebabkan terjadi penurunan penjualan rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), dari Rp 35.92 triliun anjlok menjadi Rp30.5 triliun saat pandemi ini. <\/p>\n\n\n\n Bicara soal saham di atas, sebagian pembaca ada yang menikmati berita di atas, ada yang biasa saja, ada yang jenuh itu pasti. Aku sendiri bicara tentang saham di atas merasa gak asyik gitu. Cuman dibalik itu jika kita cermati ada yang asyik dan perlu diperbincangkan. <\/p>\n\n\n\n Pertama, bicara tentang keterkaitan industri farmasi dan industri rokok dalam jual beli saham. Kedua, bicara bedanya keuntungan farmasi dan keuntungan industri rokok.<\/p>\n\n\n\n Mulai yang pertama, sebetulnya yang memiliki industri farmasi itu asing, demikian juga yang memiliki saham rokok mayoritas asing, jadi sama saja.<\/p>\n\n\n\n Penjelasan sederhananya, semua industri farmasi yang berdiri di bumi nusantara ini jelas anak usaha industri farmasi internasional. Yang bekerjasama dengan pemerintah langsung ada dua dari total 18 industri, lainnya bekerjasama dengan pihak swasta. Sedangkan industri rokok yang masuk dalam bursa saham itupun mayoritas milik investor asing.<\/p>\n\n\n\n Jadi, bicara saham farmasi dan saham rokok ya sama saja bicara investor asing. Kalaupun mereka untung besar atau merugi, agendanya sama mengeruk uang rakyat Indonesia. Dari rakyat untuk keuntungan investor asing.<\/p>\n\n\n\n Beda dengan industri rokok nasional, pemiliknya seorang pemodal anak bangsa, pasti kepeduliannya terhadap nasib bangsa lebih kuat dari pada investor asing. Kental rasa memiliki tanah air, bangga dengan tanah kelahirannya, rakyat pribumi dianggapnya saudara setanah air. Nasionalismenya terbangun, walaupun jiwa patritiknya masih banyak yang kurang. Tapi paling tidak investor lokal lebih merasa memiliki bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu pemerintah harusnya melindungi dan lebih memperhatikan kondisi industri rokok nasional. Jangan sampai pemerintah ikut alur industri farmasi yang ingin meruntuhkan industri rokok nasional dengan berkedok kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Tak berhenti disitu, di tengah-tenngah pandemi ini, industri farmasi memanfaatkan situasi dan kondisi demi keuntungan yang sebesar besarnya dengan berkedok keberlangsungan hidup manusia. Sampai sekarang diombang-ambing terkait vaksin corona. <\/p>\n\n\n\n Di saat isu vaksin corona ditemukan, disitu pula saham farmasi menjadi mahal dan terjadi lonjakan hingga ratusan persen. Jangan-jangan pandemi ini memang sudah disetting sedemikian rupa oleh pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan, demi melariskan vaksinnya. Banyak orang komentar demikian, dan sah-sah saja.<\/p>\n\n\n\n Keadaan industri rokok nasional saat pandemi merugi dan merosot tajam, karena produk rokok kretek lesu di pasaran, pungutan pemerintah berupa cukai dinaikkan. Walaupun keadaan demikian, industri rokok nasioanl tetap mengeluarkan dana dengan suka rela membantu pemerintah melawan pandemi dengan memberikan bantuan untuk kebutuhan kesehatan, seperti pakaian APD, masker, bahkan sampai memberikan bantuan alat untuk uji Swap.<\/p>\n\n\n\n Tak tanggung-tanggung, salah satu industri rokok nasional seperti Djarum yang saya ketahui rela mengkebiri dana program-programnya dialihkan semua fokus membantu pemerintah melawan pandemi corona. <\/p>\n\n\n\n Masihkan pemerintah perlu bukti lainnya, kalau industri rokok nasional lebih nasionalis dan patriotik dibanding industri farmasi multinasioanal?. Kayaknya buktinya sudah cukup banyak dan meyakinkan. Nah, pemerintah harusnya peduli juga terhadap keadaan industri rokok nasioanal, jangan ada dusta, jangan ada curiga. <\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};<\/figure>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};<\/figure>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};<\/figure>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};<\/figure>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};<\/figure>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n<\/figure>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n<\/figure>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n<\/figure>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Cerita Lain Di Balik Meningkatnya Saham Industri Farmasi dan Anjloknya Saham Industri Rokok Kretek Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-lain-di-balik-meningkatnya-saham-industri-farmasi-dan-anjloknya-saham-industri-rokok-kretek-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-27 11:26:47","post_modified_gmt":"2020-07-27 04:26:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};