\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7048,"post_author":"877","post_date":"2020-09-02 10:45:21","post_date_gmt":"2020-09-02 03:45:21","post_content":"\n

Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7048,"post_author":"877","post_date":"2020-09-02 10:45:21","post_date_gmt":"2020-09-02 03:45:21","post_content":"\n

Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7048,"post_author":"877","post_date":"2020-09-02 10:45:21","post_date_gmt":"2020-09-02 03:45:21","post_content":"\n

Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7048,"post_author":"877","post_date":"2020-09-02 10:45:21","post_date_gmt":"2020-09-02 03:45:21","post_content":"\n

Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7048,"post_author":"877","post_date":"2020-09-02 10:45:21","post_date_gmt":"2020-09-02 03:45:21","post_content":"\n

Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7048,"post_author":"877","post_date":"2020-09-02 10:45:21","post_date_gmt":"2020-09-02 03:45:21","post_content":"\n

Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7048,"post_author":"877","post_date":"2020-09-02 10:45:21","post_date_gmt":"2020-09-02 03:45:21","post_content":"\n

Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7048,"post_author":"877","post_date":"2020-09-02 10:45:21","post_date_gmt":"2020-09-02 03:45:21","post_content":"\n

Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7048,"post_author":"877","post_date":"2020-09-02 10:45:21","post_date_gmt":"2020-09-02 03:45:21","post_content":"\n

Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7048,"post_author":"877","post_date":"2020-09-02 10:45:21","post_date_gmt":"2020-09-02 03:45:21","post_content":"\n

Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7048,"post_author":"877","post_date":"2020-09-02 10:45:21","post_date_gmt":"2020-09-02 03:45:21","post_content":"\n

Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7048,"post_author":"877","post_date":"2020-09-02 10:45:21","post_date_gmt":"2020-09-02 03:45:21","post_content":"\n

Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7048,"post_author":"877","post_date":"2020-09-02 10:45:21","post_date_gmt":"2020-09-02 03:45:21","post_content":"\n

Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7048,"post_author":"877","post_date":"2020-09-02 10:45:21","post_date_gmt":"2020-09-02 03:45:21","post_content":"\n

Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7048,"post_author":"877","post_date":"2020-09-02 10:45:21","post_date_gmt":"2020-09-02 03:45:21","post_content":"\n

Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7048,"post_author":"877","post_date":"2020-09-02 10:45:21","post_date_gmt":"2020-09-02 03:45:21","post_content":"\n

Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7048,"post_author":"877","post_date":"2020-09-02 10:45:21","post_date_gmt":"2020-09-02 03:45:21","post_content":"\n

Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7048,"post_author":"877","post_date":"2020-09-02 10:45:21","post_date_gmt":"2020-09-02 03:45:21","post_content":"\n

Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7048,"post_author":"877","post_date":"2020-09-02 10:45:21","post_date_gmt":"2020-09-02 03:45:21","post_content":"\n

Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7048,"post_author":"877","post_date":"2020-09-02 10:45:21","post_date_gmt":"2020-09-02 03:45:21","post_content":"\n

Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7048,"post_author":"877","post_date":"2020-09-02 10:45:21","post_date_gmt":"2020-09-02 03:45:21","post_content":"\n

Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7048,"post_author":"877","post_date":"2020-09-02 10:45:21","post_date_gmt":"2020-09-02 03:45:21","post_content":"\n

Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7048,"post_author":"877","post_date":"2020-09-02 10:45:21","post_date_gmt":"2020-09-02 03:45:21","post_content":"\n

Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7048,"post_author":"877","post_date":"2020-09-02 10:45:21","post_date_gmt":"2020-09-02 03:45:21","post_content":"\n

Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7048,"post_author":"877","post_date":"2020-09-02 10:45:21","post_date_gmt":"2020-09-02 03:45:21","post_content":"\n

Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7048,"post_author":"877","post_date":"2020-09-02 10:45:21","post_date_gmt":"2020-09-02 03:45:21","post_content":"\n

Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7048,"post_author":"877","post_date":"2020-09-02 10:45:21","post_date_gmt":"2020-09-02 03:45:21","post_content":"\n

Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7048,"post_author":"877","post_date":"2020-09-02 10:45:21","post_date_gmt":"2020-09-02 03:45:21","post_content":"\n

Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7048,"post_author":"877","post_date":"2020-09-02 10:45:21","post_date_gmt":"2020-09-02 03:45:21","post_content":"\n

Mayoritas sektor ekonomi masa pandemi ini terkena dampak negatifnya. Terkecuali bidang kesehatan dan farmasi pasti meningkat tajam. Anehnya di tengah-tengah pandemi pemerintah berencana akan menaikkan cukai untuk tahun 2021 hingga 4.8 persen total sebesar Rp 172.8 triliun yang awalnya Rp 164.9 triliun di tahun 2020. Yang sebenarnya cukai tahun 2020 ini sudah naik sangat fantastis hingga 23 Persen.<\/p>\n\n\n\n

Target cukai di atas sesuai dengan patokan Kementerian Keuangan, dari penerimaan cukai untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n

Menurut  Sunaryo Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai (DJBC) Kemenkeu, adanya kenaikan tarif cukai telah mempertimbangkan dampak pandemi covid dan asumsi makro tahun 2021 (Kompas.com). <\/p>\n\n\n\n

Pertimbangan kenaikan tarif cukai terbagi dalam empat aspek, yaitu:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pertama, dari hasil survei, dampak pandemi terhadap kinerja reksan cukai menunjukkan secara umum masih memiliki ketahanan dalam melindungi tenaga kerja padat karya.<\/p>\n\n\n\n

Memang benar, salah satu industri yang masih bertahan dan mempertahankan karyawan saat pandemi adalah industri kretek. Sekali lagi industri kretek yang masih mempertahankan karyawannya, sedang industri lainnya termasuk industri rokok non kretek pun banyak merugi yang akhirnya banyak merumahkan karyawannya.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek dalam mempertahankan karyawannya ini, bukan perkara mudah. Pastinya yang telah dilakukan butuh pemikiran dan analisa mendalam bahkan mungkin berdarah-darah dengan harus merubah pola manajemen perusahaan yang sifatnya darurat saat menghadapi pandemi. <\/p>\n\n\n\n

Satu sisi industri harus mentaati protokol kesehatan saat pandemi, menghadapi anjloknya pendapatan saat pandemi dan menghadapi anjloknya pasar rokok kretek dampak dari kenaikan cukai hingga 23 persen, belum lagi konsekuensi mempertahankan karyawan harus mengeluarkan THR.       <\/p>\n\n\n\n

Harusnya Kemenkeu melek mata, melihat persoalan yang dihadapi industri rokok kretek di tahun 2020 ini begitu kompleks. <\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan industri kretek dalam merubah manajemen saat pandemi hingga masih bertahan dan mempertahankan karyawan mestinya pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mengapresiasi. Apa yang telah dilakukan industri kretek telah membantu pemerintah dari keterpurukan ekonomi Negara.<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan, jika industri rokok kretek egois melakukan PHK atau merumahkan karyawannya untuk perampingan, pasti ada puluhan ribu masyarakat yang kehilangan pendapatan saat Pandemi. Siapa yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidupnya?. Tentu Negara yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup masyarakat tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Negara atau Kemenkeu mengucapkan terima kasih pun tidak, apalagi mengapresiasi terobosan yang telah dilakukan industri rokok kretek. Malah sebaliknya, akan menaikkan kembali tarif cukai rokok bertambah yang rencananya 4.8 persen. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya negara dalam hal ini Kemenkeu itu pemerintah yang berfungsi semestinya sebagai administrator atau lembaga penindas hingga industri rokok kretek menjadi sapi perah?.  <\/p>\n\n\n\n

Ibarat kecilnya, dalam satu keluarga banyak anak, semua anak terkena dampak adanya pandemi. Ada salah satu anak yang baik hati, walaupun pendapatannya sangat berkurang saat pandemi namun ia mengorbankan dirinya tetap memberikan jatah dan menghidupi keluarganya. Kebaikan tersebut ternyata dipandang sebelah mata, tidak dianggap sebagai kebaikan, tapi sebaliknya ia justru mendapatkan perlakuan dan tuntutan lebih dari keluarganya. Sudah baik masih ditindas, adilkah?.<\/p>\n\n\n\n

Kedua; berdasarkan hasil kajian, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik volume maupun nominal cukai. Pertimbangan yang kedua ini apa yang dimaksud kontributor utama tidak jelas sama sekali. Memang secara volume dan nominal turun dibanding tahun sebelumnya, namun hal itu disebabkan faktor kondisi riilnya begitu. Kecuali farmasi, industri apa yang tidak terkena dampaknya?.  Semua pendapatan industri masa pandemi dipastikan turun tajam.  Kenapa menafikan keadaan dan kondisi masa pandemi?. Semua negara mengalami dan sadar akan dampak pandemi. Kenapa Kemenkeu, memanfaatkan dampak pandemi ini untuk menaikkan tarif cukai rokok lagi. Pertanyaannya, benarkah apa yang dilakukan Kemenkeu tersebut?.  <\/p>\n\n\n\n

Ketiga; berdasarkan monitoring HTP pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting, pabrikan masih menalangi (backward shifting). Pertimbangan yang ketiga ini sangat ambigu seakan dipaksakan sebagai alasan untuk kenaikan tarif cukai. Baik fully shifted, forward shifting dan backward shifting korelasinya sebagai dasar pertimbangan kenaikan tarif tidak jelas sama sekali bahkan tidak ada. <\/p>\n\n\n\n

Untuk cukai dari dulu hingga sekarang industri rokok kretek kecil ataupun besar harus bayar di muka atau diawal bahasa lainnya menalangi. Belum ada sejarahnya pita cukai dibayar dibelakang, karena pemerintah takut rugi. Dalam hal ini, harga pita cukai ditentukan pemerintah melalui Bea Cukai dan Kemenkeu. Dari ketentuan harga cukai berpengaruh terhadap harga rokok kretek. Jadi industri rokok kretek BUMN model baru. Pemerintah yang mendapatkan untung terbanyak dari hasil penjualan rokok kretek, tapi pemerintah tanpa modal, tanpa menanggung kerugian dan tanpa menanggung resiko. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya demikian, dimasa pandemi pun pemerintah tetap akan menaikkan tarif cukai rokok demi target dan pemenuhan pendapatan.   <\/p>\n\n\n\n

Keempat; titik optimum menjadi penentu target 2021 yang tidak serta merta penambahan beban berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan. Menurut Sunaryo, praktik performa hasil tembakau tahun 2012-2018 secara nominal, produksinya telah menurun, prevalensi total global juga turun, namun penerimaan cukai tercapai dan meningkat secara nominal serta proporsional.<\/p>\n\n\n\n

Dari alasan pertimbangan keempat ini, mungkin pak Naryo lupa, kalau industri rokok kretek sebenarnya sangat terpaksa membeli pita cukai. Karena akibatnya akan lebih sengsara jika tanpa pita cukai dalam bungkus rokok. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian, hal ini menunjukkan begitu baik hatinya industri kretek, walaupun hasil produksinya menurun, prevalensi total global juga turun, namun tetap membayar pungutan sesuai ketentuan sepihak (pemerintah).<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian, industri rokok kretek adalah satu-satunya industri yang taat pajak walaupun masa pandemi. Satu-satunya industri taat aturan di masa pandemi dan satu-satunya industri yang masih tetap mempertahankan karyawannya walaupun pendapatannya menurun drastis masa pandemi. Jayalah rokok kretek, jayalah Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Empat Pertimbangan Rencana Kenaikan Cukai Tahun 2021 Tak Berdasar","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-pertimbangan-rencana-kenaikan-cukai-tahun-2021-tak-berdasar","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-02 10:45:28","post_modified_gmt":"2020-09-02 03:45:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7048","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};