Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n
Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n
Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n
Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n
Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n
Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen. Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh. Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini. Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n
Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n
Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"
Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\nKomoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n
Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.
Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.
Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\nMusim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n
Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000
Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.
Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.
Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.
Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};