***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n
***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n ***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n ***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n ***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n ***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n ***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n ***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n ***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n ***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n ***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n ***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n ***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n ***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n ***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n ***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n ***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n ***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n ***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n ***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n ***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n ***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n ***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n ***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n ***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan. ***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n ***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Gunung Sumbing betul-betul memberikan trauma mendalam pada saya. Hingga kini, jika mengingat kejadian itu, saya masih sulit menerima kejahatan semacam itu bisa saya alami, dan di tempat yang sama sekali sulit saya duga.<\/p>\n\n\n\n ***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n ***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Saya melaporkan kejadian perampokan yang saya alami di basecamp. Pengelola basecamp dan para pendaki yang ada di basecamp berusaha menenangkan saya. Malam hari saya tak bisa tidur. Ketakutan masih menghantui saya. Pagi harinya saya di antar ke jalan raya tempat bis jurusan Wonosobo-Magelang melintas. Pengelola basecamp juga membekali saya uang Rp20 ribu untuk ongkos pulang Magelang-Yogya. <\/p>\n\n\n\n Gunung Sumbing betul-betul memberikan trauma mendalam pada saya. Hingga kini, jika mengingat kejadian itu, saya masih sulit menerima kejahatan semacam itu bisa saya alami, dan di tempat yang sama sekali sulit saya duga.<\/p>\n\n\n\n ***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n ***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Tak ada pikiran untuk menunggu pendaki lainnya turun. Yang ada di pikiran saya hanya lekas turun, lekas turun, bersegera turun. Beberapa pendaki yang saya jumpai ketika saya berlari turun sama sekali tak saya hiraukan. Kira-kira setengah jam sebelum saya tiba di jalan desa, malam tiba. Ini hanya perkiraan saja karena jam tangan dan hape tempat biasa saya melihat waktu-waktu untuk diingat dan dicatat turut raib bersama seluruh barang lainnya. Dalam kondisi normal, mustahil saya bisa secepat itu kembali ke basecamp. Ketakutanlah yang membantu saya turun gunung dalam waktu cepat.<\/p>\n\n\n\n Saya melaporkan kejadian perampokan yang saya alami di basecamp. Pengelola basecamp dan para pendaki yang ada di basecamp berusaha menenangkan saya. Malam hari saya tak bisa tidur. Ketakutan masih menghantui saya. Pagi harinya saya di antar ke jalan raya tempat bis jurusan Wonosobo-Magelang melintas. Pengelola basecamp juga membekali saya uang Rp20 ribu untuk ongkos pulang Magelang-Yogya. <\/p>\n\n\n\n Gunung Sumbing betul-betul memberikan trauma mendalam pada saya. Hingga kini, jika mengingat kejadian itu, saya masih sulit menerima kejahatan semacam itu bisa saya alami, dan di tempat yang sama sekali sulit saya duga.<\/p>\n\n\n\n ***<\/strong><\/p>\n\n\n\n Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure><\/div>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure><\/div>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure><\/div>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure><\/div>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure><\/div>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure><\/div>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure><\/div>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure><\/div>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure><\/div>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure><\/div>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure><\/div>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure><\/div>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure><\/div>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure><\/div>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure><\/div>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n
<\/figure><\/div>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n
<\/figure><\/div>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n
<\/figure><\/div>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n
<\/figure><\/div>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n
<\/figure><\/div>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n